Teh Wati, pmi purna yang menguasai beberapa bahasa asing memberikan penjelasanan tetang tanaman hanjelim pada wisatawan dari beberpa negara yang berkunjung ke desa wisata Waluran, Sukabumi (foto:dok.rumah hanjeli)

Penulis : Erwan Mayulu

Awal September 2022 lalu, Kampung Waluran , Desa Waluran Mandiri,di Kabupaten Sukabumi, Jawa Bara desa Wauran, dikunjungi wisatawan dari berbagai negara seperti Jepang, Malaysia, Thailand, India dan Turkmenistan. Kunjungan wisatawan ke desa wisata haneli itu bagian dari kegiatan Summer Program “Sustainable Geo Heritage” Agribisnis Universitas Muhammadiyah Sukabumi. 

Wisatawan yang semuanya adalah mahasiswa itu diajak oleh Asep Hidayat Mustopa, penggagas berdirinya desa wiasata Wauran, untuk menikmati olahan bubur hanjeli sebagai pembuka percakapan lanjut mengisi buku tamu dengan Scan Barcode kaitan digitalisasi di desa wisata hanjeli. “Ya, walaupun dikampung setidaknya kami harus melek teknologi digital agar data bisa terecord dengan baik dan sebagai pijakan dalam melakukan pengembangan”, tutur Asep pada penulis.

Kedatangan wisatawan yang terdari para Mahasiswa itu ingin mempelajari sukses masyakat di kampung itu membudayakan tanaman langka Hanjeli.

Lanjut ,dijelaskan tentang nama Hanjeli dari berbagai negara misalnya dari Thailand disebut ADLAI, kalau di Malaysia disebut JELAI, di Jepang kadang disebut HATOMUGI, serta kami jelaskan tentang kandungan gizi, kandungan proteinnya dua kali lipat daripada beras biasa, kalsiumnya 3 kali lilat dari beras sawah.  lalu kita jelaskan juga sejarah hanjeli hingga bagaimana berkaitan dengan sejarah Bunker waluran termasuk dengan sejarah Kerajaan Galuh yg paling utama adalah sebagai kekayaan (Bio Diversity) Ciletuh Palabuhanratu Unesco Global Geopark (CPUGGp)

Di rumah Hanjeli, Asep berdiskusi dengan wisatawan yang merupakan mahasiswa dari beberapa negara di Asia (foto;dok.rumah hanjeli)

Setelah selasai mengenalkan hanjeli, lanjut ke kebun sambil belajar tanam hanjeli dengan pola Ngaseuk, lanjut mengenal panen dengan dua tata cara yaitu dengan menggunakan Ani-ani serta dengan golok atau parang. Kegiatan selanjutnya adalah menumbuk hanjeli dan menampi hanjeli pakai nampah. Setiap mahasiswa dipersilahkan mencoba belajar menampi sekaligus dipandu oleh teh Koyah Kwt dan teh Wati sebagai guide lokal hanjeli. 
Ada tata cara bagaimana memisahkan Beras dan sisa gabahnya terus bagaimana memisahkan beras yg sudah dikupas dan yg masih utuh dalam nampah.

Setelah selasai belajar pertaniannya lanjut ke pengolahan rengginang hanjeli dipandu oleh ma Entun dan ma Ubed sebagai tim kami, para mahasiswa langsung mengambil sarung tangan sebelah kiri dan tangan kanan memegang stik bambu untuk langsung belajar membuat olahan rengginang sambil menggoreng dan menikmati rengginang yg krispi. 

Anak2 melanjutkan kegiatan ke Rumah Aksesoris Hanjeli untuk membuat gelang hanjeli dan gelangnya jadi souvenir untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh dari dewi hanjeli. 

Selsai membuat gelang hanjeli melanjutkan ritual yaitu menyantap Liwet Hanjeli ditemani sambal honje, turubuk cocol sambel, teri asin jengki, karedok lokal, serta lalaban yg masih fresh. 

Desa Wisata Hanjeli sedang berjuang dan ikhtiar untuk memberikan alternatif pariwisata yg berkelanjutan/ Wisata Edukasi dengan pemberdayaan Purna Migran, emak-emak, dan santri-santri yangg ada di wilayah Dewi Hanjeli tepatnya di kawasan Ciletuh Palabuhanratu Unesco Global Geopark. 

Selepas kedatangan mahasiswa beberapa negara itu, dilanjutkan kedatangan para masiswa
UPI Bandung Prodi DKV yang sedang melakukan KKN khusus di Desa Wisata Hanjeli. 

KKN kali ini lebih di titik beratkan kaitan Guideline, Visual Branding, Coloring Branding, Color Code, Sign System serta fokus ke redesain. 

Asep berharap, hasil dari penelitian ini kita memiliki Master plan desain yg elegan, futuristik, serta branding yg lebih baik serta bisa dipertanggung jawabkan secara akademis. Dengan adanya New Branding target jangka panjang kamipun untuk segmentasi kunjungan selain wisatawan Nasional adalah Wisatawan Internasional bisa Sekolah Internasional maupun wisatawan dari luar negeri. 

PMI PURNA

Asep Hidayat Mustopa, kelahiran 1978, adalah seorang mantan pekerja migran atau pekerJa migran Indonesia (PMI) Purnadari Kabupaten sukabumi yang dikenal luas sebagai pemuda pelopor pembudiayaan tanaman hanjeli di daerahnya.
Ketertarikanya pada budidaya tanaman Hanjeli sejak 2010 bermula dari keresahannya melihat makin sedikit orang menanam hanjeli di daerahnya. Petani lebih suka menanam padi dan tanaman linnya yang masa panennya lebih cepat. Hanjeli biasanya baru bisa dipanen tiap 6 bulan sekali. Sedangkan tanaman padi kini bisa dipanen tiap 3 bulan sekali. Inilah salah satu sebab petani tidak lagi menjadikan tanaman hanjeli sebagai tanaman pilihan utama para petani di desa.
Pada 2010,Asep Hidayat mulai mencoba membudidayakan tanaman hanjeli ini. Selain ingin menyelematkan tanaman ini agar tidak hilang, dia berfikir jika dikelola dengan baik jenis tanaman ini bernilai ekonomis dan akan menjadi salah satu sember penghasilan bagi para petani. Apalagi jenis tanaman ini hanya ditanam di tegalan, bukan di sawah. Sementara di desanya, tanah tegalan cukup luas.
Langkah awal dilakukannya dengan mengoleksi beberapa jenis sekaligus menanamnya di areal perkampungan. Yaitu hanjeli jenis ketan dan batok. Ditanam di tegalan/lereng bukit. Jenis ini banyak tumbuh di wilayah Sukabumi. Target awal peruntukannya untuk konsumsi alternarif selain beras.
Dengan merogoh kantong sendiri untuk ongkos tanam , 6 bulan kemudian bisa melakukan panen perdana.
“Hasilnya lumayan. Dibuat jadi bubur manis”, tutur Asep Hidayat saat dijumpai penulis di Rumah Pamer Hanjel, Desa Waluran Mandiri. Panen ini meski tergolong lumalayan hasilnya, namun tidak serta merta bisa menarik petani setempat untuk ikut menanamnya secara massif. Persoalannya pada pemasaran pasca panen.

Bagi petani selain hasil panen yang bagus juga adanya pasar yang menyerap hasil panennya.
Untuk menjawab ini, Asep Hidayat melakukan langkah konkrit : hanjeli dimasak jadi bubur manis dan dijadikan sebagai sajian “welcoming drink” pada tamu-tamu yang datang ke desa. Welcome drink biasanya disajikan pada tamu yang baru datang di hotel — hotel berbintang, Nah, hal sama dilakukan Asep pada tamu — tamu yang berkunjung di desanya.
Sebelum melakukan gerakan pembudidayaan tanaman hanjeli di desanya, Asep Hidayat telah merintis dan menjadikan desa Waluran Mandiri menjadi desa wisata. Desa Wisata Waluran dengan mengusung metode home stay bagi pengunjungnya. Pengunjung yang datang umumnya wisatawan lokal berkelompok dengan waktu tinggal beberapa hari. Wisatawan tinggal di rumah — rumah penduduk . Bahkan ada kelompok wisatawan dari Bogor dan Kalimantan Timur yang khusus datang untuk mngetahui dan mempelajari seleluk beluk tanaman hanjeli.
Cara ini cukup ampuh buat pengenalanan tanaman hanjeli pada wisatawan sebagai makanan alternatif pengganti beras yang juga berkhasiat obat karena kandungan gizinya lebih tinggi serta kadar karbohidratnya rendah sehingga cocok bagi mereka yang menjaga kadar gula dalam tubuhnya serta yang melalukan program diet.
Pemasaran lain dilakukan Asep dengan menjual secara online. Tanggapan pasar, memenurutnya, cukup besar. Permintaan terbesar datang dari kota — kota besar seperti Jakarta. Hingga kini, pesanan terbesar dari penjualanan secara online. Konsumen dari segmen tertentu banyak memesan hanjeli karena jenis makanan ini juga dijadikan obat. Menurut ceritera, sejak dahulu kala di Tiongkok, hanjeli dijadikan obat.

Melihat pasar yang bagus ini, lambat laun penduduk desanya mulai tertarik dan ingin ikut menanaman hanjeli. Namun persoalan lain muncul. Siapa penduduk yang mau menjadi petani dan menanaman hanjeli? . Umumnya para pria penduduk desa itu menjadi penambang emas di Kawasan pesisir , Kabupaten Sukabumi.
Kemudian Asep mengajak kaum perempuan di desa Wuluran untuk menanam hanjeli. Para perempuan di desa ini dikenal sebagai pekerja keras, tidak semata jadi ibu rumah tangga. Pekejaan — pekerjaan yang biasanya dikerjakan kaum pria, mereka juga lakukan, hingga bekerja ke luar negeri. Sebanyak 20 — 30 orang perempuan mulai ikut menjadi petani hanjeli. Belakangan kelompok petani perempuan ini dijadikannya satu kelompok dengan membentuk wadah Kelompok Wanita Tani (KWT) .
Yang menjadi motor penggerak kelompok ini adalah para mantan pekerja migran atau pekerja migran Indonesia (PMI) Purna. Umumnya mereka telah belasan tahun bekerja di beberapa negara berbeda. Wati misalnya, pernah bekerja di Taiwan dan beberapa negara di Timur Tengag. Hingga Wati fasih berbahasa Inggeris, China dan bahasa Arab. Demikan pula beberapa para mantan PMI. Bekerja di luar negeri jadi pilihan utama para wanita dan sebagian pria desa itu. Terbatasnya peluang kerja di daerah, menjadikan mereka berulang kerja di luar negeri. Selepas kontrak dan kembali ke Indonesia, mereka kembali berangkat ke negara lain. Adapun yang tidak berangkat lagi karena faktor usia atau faktor lain dan mereka kerja di pertambangan emas liar yang keras dan berisiko tinggi.
Asep Hidayat Mustopa kemudian mengajak para manta PMI ini untuk bergabung dengannya membudidayakan tanaman hanjeli serta mendukung kegiatan seputar desa wisata. Rumah – rumah eks PMI itu dijadikan tempat penginapan bagi wisatawan lokal maupun manca negara . Yang jadi instruktur, para mantan PMI itu. Mereka mengenalkan tanaman hanjeli, cara bercocok tanam hingga memasak bubur dan menggoreng renginang berbahan dasar hanjeli. Juga yang jadi jurus bahasa adalah para mantasn PMI.
Hasilnya, keadaan ekonomi desa itu terus membaik dengan kehadiran desa wisata dan penjualan tanaman hanjeli. Minat masyarakat bekerja di luart negeri berkurang. Demikian pula minat untuk berangkat lagi kerja di luar negeri juga dapat direm. Karena mereka ada kerja layak dan menghasilkan.
“Minat orang bekerja di luar negeri masih ada, tapi dengan adanya kegiatan produktif di desa minat itu berkurang dan terbatas pada orang tertentu saja. Begitu pula minat berangkat lagi setelah pulang, juga berkurang”, tutur Asep.
Kerja di tempat tak layak dan berisiko tnggi seperti pertambnagan emas liar,telah ditinggalkan para mantan buruh migran itu. Mereka jadi “tuan rumah” wisatawan yang tinggal di rumahnya sekaligus jadi pemandu/juru bahasa asing .
Bagi Asep Hidayat, untuk mengerem minat orang desa bekerja di luar negeri adalah dengan memberdayakan mereka dengan menciptakan lapangan usaha, lapangan kerja dan kegiatan produktif. Melalui desa wisata yang dia kembangkan banyak PMI purna dikampungnya diberdayakan. Tujuannya agar mereka bisa tetap tinggal dikampung tapi punya pengahilan, dan bisa mengurus keluarga, bisa berkreasi dikampung . Kalo mereka ke timur tengah lalu siapa yg mengurus kelaurga, banyak kejadian yang tidak di harapkan seperti suami nikah lagi, anak terlantar dan lain lain. “Alhamdllah, dengana adanya Hanjeli, ibu-ibu bisa ikut berdaya dan tidak lagi berpikir untuk pergi ke Timur tengah lagi”, tutur Asep..

Sejalan makin berkembangnya desa wisata dengan banyaknya kunjungan berombonan dengan tujuan wisata, studi banding dan kuliah kerja nyata para mahasiswa, maka kolaborasi komunitas PMI dikembangkan dengan merangkul kelompok emak-emak dan santri di pondok pesantren sekitar desa Waluran Mandiri.

JADI PMI DI ARAB

Pada tahun 2007 Asep berangkat ke Arab Saudi untuk bekerja sekaligus ingin mewujudkan keinginannya melaksanakan ibdah umroh da haji.  Sebelum berangkat sudah ada keahlian yaitu Bahasa Arab karena dulu pernah mondok di pesantren dan Kaligrafi yang diajarkan di pondok.

Kerja di Arab Saudi karena ada ada tawaran, lalu ikut test di LIPIA Jakarta . Dari 20 orang yang lulus hanya 4 Orang yang diberangkatkan. Dia lupa nama PJTK yang membernagkatkan, karena udah lama. Setelah dinyatakan lulus test, lanjut pasporan di Tangerang dengan skema ditanggung oleh perusahaan dan sebagian di potong gaji. 
Selama di Arab saudi dia bekerja di Perusahaan Maktabah El-Manar Kota Zulfi salah satu galery kaligrafi/ Seni untuk kebutuhan tulisan dan pesanan orang arab. Selama di Arab Saudi banyak Sukanya yaitu banyak pengalaman baru, bisa ikut berorganisasi warga Indonesia yang ada di kota Zulfi, bisa ikut Umrohan dan hajian Gratis, banyak jejaring yg dibangun dengan teman- teman seindonesia. Dukanya, jauh dari keluarga, harus menyesuikan dengan Musim Panas dan Dingin.
Asep hanya bekerja selama 2 tahun, sesuai kontrak. Saat ditawartkan memperpanjang kontrak, Asep minta perobahan sistmen gaji. Dia ajukan sistem bagi hasil agar penerimaannya lebih besar. Bagi hasil ini diajukanya sebagai hal yang wajar dan adil. Karena dia merasa keahliannya sebagai pembuat kaligrafi butuh sentuhan seni tinggi dan hasilnya telah dirasakan oleh perusahaanya.Karena itu wajar dia minta sistem bagi hasil. Alhasil, permintaannya ini di tolak perusahaan.Upahnya selama bekerja, sebagian di kirim ke orang tuanya di Sukabumi. Sebagian lagi dia simpan untuk bekal dia pulang jika selesai kontrak.
Pada 2009, Asep kembali ke tanah air. Pengalamannya bekerja di Arab Saudi dengan lakunya hasil karyanya membuat keyakinannya bahwa dengan keahlian membuat kaligrafi, dia bisa bisa berkarya dan berkreasi di Indonesia. Setelah pulang ke Sukabmi kembali sebagai kaligrafer proyek melukis kaligrafi dimasjid, ikut lomba MTQ, dan mengajar disekolah dan lain lain. Sambil kuliah di Universitas Terbuka , namun hanya 4 semester saja dilakoninya.. 
Sambil melakoni kegiatannya itu, Asep berniat melakukan Awal kegiatan Expedisi Indonesia, dengan menggunakan dana yang dikumpukan dari upahnya di Arab Saudi. Karena keluarga ada yang sakit jadi niatnya hanya Expedisi Sukabumi saja. Setelah keliling Sukabumi dengan melihat segala potensi lalu Asep mencoba explore secara Kuliner. Bahkan dulu dia sempat jualan beras hitam, beras merah, madu hingga menjual pangan lokal lainnya dan jatuh cinta terhadap pangan lokal Hanjeli karena kandungan Gizinya yg luar biasa. 
Dari sinilah ide membudidayakan tanaman hanjeli. Karena masyarakat di Waluraan sudah turun temurun bahkan sebelum ada Belanda dan Jepang masyarakat Waluran sudah menanam hanjeli. Sampai saat ini masih tetap berbudaya bila ada yang hajatan atau nikahan pasti ada menu yang dihidangkan dalam bentuk tape/ peuyuem.
Kini desa wisata Waluran Mandiri yang mengusung pola home stay telah dikenal dunia. Pemberdayaan PMI purna dan masyarakat menjadi kunci sukses desa wisata ini.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *